Sabtu, 08 Mei 2010

makalah sedimentasi di daerah aliran sungai Oesapa oleh yohanes reinnamah

makalah sedimentasi di daerah aliran sungai Oesapa

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Indonesia sedang mengalami tahap-tahap pembangunan yang sangat penting dalam laju pembangunannya, terutama dalam hubungannya dengan keseimbangan daya dukung sumberdaya, pemanfaatannya dan kemampuan pengelolaannya. Salah satunya adalah daerah aliran sungai, yang apabila tidak dikelola dengan baik maka akan menimbulkan dampak pada wilayah sepanjang area aliran sungai yang berujung pada wilayah laut. ( Ilyas, 1990)

Daerah aliran sungai adalah keseluruhan daerah kuasa (regime) sungai yang menjadi alur pengatur (drainase) utama. Batas daerah aliran sungai (DAS) merupakan garis bayangan sepanjang punggung pegunungan atau tebing/bukit yang memisahkan system aliran yang satu dari yang lainnya. Pada kondisi dimana sumberdaya tidak mencukupi kebutuhan manusia, dalam melakukan pengelolaan terhadap DAS untuk mendapatkan manfaat sebaik-baiknya dari segi ukuran fisik, teknik, ekonomi, sosial budaya maupun kemantapan-kemantapan nasional, Sedangkan pada kondisi di mana sumberdaya DAS melimpah, maka pengelolaan di maksudkan untuk mencegah pemborosan. (Tarumingkeng, 2009)

Perairan umum daratan sekitar DAS dimanfaatkan untuk berbagai sektor pembangunan dengan berbagai tujuan dan kepentingan yang beragam. Dengan semakin pesat gerak maju pertumbuhan pembangunan terlihat semakin meningkat kebutuhan akan sumberdaya alam dan pada gilirannya akan semakin besar pula tekanan akibat dari pembangunan itu terhadap sumberdaya perairan. (Koentjaraningrat, 1984)

Pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development) hanya akan tercapai apabila kebutuhan manusia dan kapasitas sumberdaya alam terbaharui yang akan memenuhi kebutuhan manuasia tersebut, dapat seimbang seiring dengan perjalanan waktu. Dengan kata lain, pembangunan dikatakan berkelanjutan apabila pengelolaan dan pemanfaatan alam bagi kepentingan umat manusia pada saat sekarang ini masih menjamin kelangsungan pemanfaatan sumberdaya alam tersebut bagi generasi kita di masa yang akan datang, sehingga pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) diharapkan dapat memberikan kerangka kerja ke arah tercapainya pembangunan yang berkelanjutan. Seperti yang sudah termuat dalam GBHN 1999 dan Propenas bahwa pembangunan ekonomi kita harus bias memanfaatkan secara optimal seluruh keunggulan sumberdaya yang dimiliki. Namun harus memperhatikan keberlanjutan usaha secara berkelanjutan. (Sambut, 2004)

Pada umumnya kegiatan pengelolaan daerah alirang sungai (DAS) seringkali di batasi oleh batas-batas politis/administratif (propinsi, kabupaten, kota dan pedesaan). Oleh karena itu, batas-batas ekosistem alamiah kurang banyak dimanfaatkan. Beberapa aktifitas pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) yang silaksanakan di daerah hulu seperti kegiatan pengelolaan lahan yang mendorong terjadinya erosi, pada gilirannya dapat menimbulkan dampak di daerah hilir. Peristiwa degradasi lingkungan ini jelas mengabaikan penetapan batas-batas politis sebagai batas pengelolaan sumberdaya alam (SDA). Dengan demikian, daerah aliran sungai (DAS) dapat dimanfaatkan sebagai satuan perencanaan dan pengelolaan yang logis dari sisi pandang pengelolaan lingkungan. (Lipsi 2000)

Daerah aliran sungai yang terdapat di kelurahan oesapa/kecamatan kelapa lima kota kupang ini sangat potensial dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan, salahsatunya adalah pembuatan pabrik atau industri tahu yang dinilai secara ekonomis mampu memenuhi kebutuhan masyarakat namun, memiliki jumlah pencemaran tiap bulan yang terus mengalami peningkatan karena terjadi penumpukan di sekitar DAS. Limbah yang dihasilkan oleh industri langsung dibuang ke laut melalui DAS tanpa diolah terlebih dahulu sehingga menimbulkan kerugian pada masyarakat yang ada disekitar daerah tersebut.

1.2. Tujuan

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:

§ untuk mengetahui pola pengelolaan daerah aliran sungai dan vegetasi di DAS Oesapa.

§ untuk mengetahui seberapa besar tingkat pencemaran dan dampaknya terhadap kehidupan vegetasi.

§ Untuk pertimbangan dalam penyusunan kebijakan, pengambilan keputusan, perencanaan dan pengembangan selanjutnya dalam pengelolaan DAS


1.3. Permasalahan

Pemanfaatan DAS oleh sebagian pihak tanpa memperhatikan tingkat kelestarian lingkungan, membuat hilangnya vegetasi, degradasi fisik lingkungan serta pencemaran yang semakin meningkat akibat limbah yang di buang ke DAS tidak diolah terlebih dahulu sehingga menimbulkan dampak bagi masyarakat yang berada di sekitar daerah tersebut.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsep Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

Konsep kerangka pemikiran pengelolaan DAS (Hufschmidt, 1986 dalam Asdak. (2005) menggunakan tiga dimensi analisa pengelolaan yakni: yang pertama, pengelolaan DAS sebagai proses yang melibatkan langkah-langkah perencanaan dan pelaksanaan yang terpisah tetapi mempunyai kaitan yang erat, ke dua pengelolaan DAS sebagai system perencanaan pengelolaan dan sebagai alat implementasi program pengelolaan DAS melalui kelembagaan yang relevan dan terkait, ketiga pengelolaan DAS sebagai serial aktivitas yang masing-masing berkaitan dan memerlukan perangkat pengelolaan yang spesifik. Untuk dapat tercapainya pembangunan DAS yang berkelanjutan maka kegiatan pembanguna ekonomi dan perlindungan lingkungan harus diselaraskan. Dalam hal ini diperlukan penyatuan kedua sisi pandang tersebut secara realistis melalui penyesuaian kegiatan pengelolaan DAS dan konservasi daerah hulu ke dalam kenyataan-kenyataan ekonomi dan social. Inilah tantangan formulasi kebijaksanaan yang harus dituntaskan apabila tujuan pembangunan yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan ingin di di wujutkan. Asdak (2005)

Pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup yang tidak di lakukan sesuai dengan daya dukungnya dapat menimbulkan adanya krisis pangan, krisis air, krisis energi, dan lingkungan. Secara umum, dapat di katakan bahwa hampir seluruh jenis sumberdaya alam dan komponen lingkungan hidup di Indonesia cenderung mengalami penurunan kualitas dari waktu ke waktu. Kerusakan ini merupakan indikasi betapa buruknya pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup di Indonesia termasuk di bidang kehutanan. (Montolalu, 2005)

2.2. Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Harus Sebagai Suatu System Perencanaan

Berbagai sector pembangunan sesuai dengan misinya merencanakan, melaksanakan pemanfaatan dan pengelolaan perairan umum baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang dengan upaya sebesar mungkin bagi upaya pencapaian tujuan sector pembangunan menurut sektornya masing-masing (Simanjuntak, 2001)

Akhir-akhir ini laju pembangunan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) semakin meningkat termasuk yang terkait dengan tata guna lahan. Pemanfaatan dan pengelolaan DAS oleh berbagai sector telah memberikan dampak yang cukup besar, namun di lain pihak telah memberikan beban terhadap sumberdaya akuatik. Beban tersebut merupakan masalah bagi sector perikanan antara lain, berupa perubahan-perubahan struktur fisik serta ekosistem dan komunitas khususnya ikan. (Chalik, 2003)

Pengelolaan DAS yang efektif memerlukan penegasan isu-isu dan permasalahan penting yang memerlukan penanganan segera. Dalam konteks yang lebih luas dan untuk hasil keluaran yang bersifat fisik, pengelolaan DAS dapat di pandang sebagai system perencanaan yang menggunakan masukan ilmiah untuk menganalisa setiap permasalahan urgen dan penanggulangannya dalam setiap ruang pengelolaan. KUKR (2000) Dari sudut pandang ekonomi, system pangelolaan DAS menjadi tidak sesuai dengan yang di harapkan di karenakan adanya penambahan jumlah penduduk yang semakin banyak dan tekanan hidup yang semakin meningkat yang membuat masyarakat melihat semua lahan sebagai tempat untuk dapat menyambung hidup dengan memanfaatkannya. (Asdak, 2005)

2.3. Pengelolaan DAS dan Konsep Multiguna

Pertumbuhan penduduk Indonesia yang relative besar menyebapkan kebutuhan akan lahan baik kuantitas maupun kualitas akan semakin besar, sehingga di beberapa daerah yang penduduknya padat tekanan terhadap tanah semakin besar. Apabila pertambahan penduduk dan peningkatan kebutuhan lahan tidak diimbangi dengan pemanfaatan yang baik dan benar menurut kaidah konservasi tanah dan air, maka keadaan itu aka mengancam kehidupan manusia di masa yang akan datang, dan tujuan untuk pembangunan yang berkelanjutan semakin jauh dari jangkauan. Dalam melaksanakan pembangunan, sumber-sumber daya alam Indonesia harus di gunakan secara rasional. Hal ini merupakan penjabaran dari UUD 1945 pasl 33 yakni sumberdaya alam harus diolah tanpa merusak lingkungan dan pengolahan sumberdaya alam harus dalam rangka kebijakan pembangunan nasional secara menyeluruh dan mempertimbangkan kebutuhan generasi mendatang. (Agung, 2005)

Program-program pengelolaan DAS yang bertujuan untuk meningkatkan produktifitas lahan di suatu daerah aliran sungai sebaiknya tidak mengabaikan perlunya menerapkan praktik pengelolaan DAS yang berwawasan lingkungan. Di lain pihak, aktifitas pengelolaan DAS untuk menurunkan laju erosi dan sedimentasi serta permasalahan yang berkaitan dengan sumberdaya air sebaiknya tidak mengabaikan pentingnya peranan DAS bagian hulu dalam menghasilkan barang dan jasa. Isu penting yang perlu di kemukakan adalah bagaimana dapat menyusun strategi pengelolaan DAS bagian hulu yang dapat meningkatkan pendapatan penghuni DAS yang bersangkutan melalui pemanfaatan sumberdaya alam yang berwawasan lingkkungan. Pada umumnya ada dua tipe pengelolaan multiguna DAS yang umum dikenal dalam rencana pengelolaan DAS yakni: yang pertama, pengelolaan multiguna DAS yang berorientasi pada sumberdaya alam. Kedua, pengelolaan yang berorientasi pada wilayah pengelolaan. Asdak (2005) sedangkan BKPMD (2002) mengatakan bahwa pembangunan ekonomi Indonesia harus dapat mengoptimalkan seluruh sumberdaya baik teresterial maupun aquatic walaupun sering di asumsikan bahwa potensi kelautan lebih menguntungkan namun keiatan di daerah daratan sangat mempengaruhi proses produksi daerah tersebut, sehingga perlu adanya perhatian khusus dan perlakuan terhadap seluruh kegiatan yang ada di daerah tersebut.

2.4. Pengelolaan Vegetasi dan Aliran Air Pada DAS

Pengelolaan vegetasi di daerah hulu juga dapat menurunkan aliran sedimen yang masuk ke dalam suatuperairan sehingga umurnya dapat di perpanjang. Dengan demikian, mendukung kelangsungan pemanfaatan perairan. Tapi, perencanaan pengelolaan vegetasi, terutama dalam pemilihan jenis vegetasi, untuk meningkatkan debit air yang tidak benar dapat memberikan hasil yang sebaliknya, yaitu menurunkan debit air karena cadangan air tanah di tempat berlangsungnya kegiatan tersebut berkurang oleh adanya proses evapotranspirasi vegetasi. (Taryoto, 2001)

Pengelolaan vegetasi, khussnya vegetasi hutan, telah lama dipercaya dapat mempengaruhi aktu dan penyebaran aliran air. Beberapa pengelola DAS bahkan beranggapan bahwa hutan dapat di pandang sebagai pengatur aliran air (streamflow regulator), artinya bahwa hutan dapat menyimpan air selama musim hujan dan melepasnya pada musim kemarau. Konsekuensi logis dari adanya anggapan seperti ini adalah bahwa keberadaan hutan lalu dapat menghidupkan mata-mata air yang telah lama tidak mengalirkan air, keberadaan hutan dapat mencegah terjadinya banjir dan kemudian menjadi kelihatan logis bahwa hilangnya areal hutan akan mengakibatkan terjadinya kekeringan atau bahkan dapat mengubah daerah yang sebelumnya tampak hijau dan subur menjadi daerah seperti padang pasir (desertification). Anggapan tersebut di atas oleh kebanyakan pakar hidrologi hutan dianggap lebih di dasarkan pada mitos dari pada kenyataan, bahkan di Negara yang sudah maju sekalipun. Namun demikian, harus diakui bahwa adanya anggapan tersebut telah mengilhami meluasnya gerakan konservasi air dan tanah di beberapa negara-negara maju seperti Amerika dan Canada. (Asdak, 2005)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Waktu dan Tempat

Adapun waktu yang di perlukan untuk melakukan penelitian ini adalah pada bulan mei, di daerah aliran sungai (DAS) Oesapa

3.2. Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang di gunakan dalam penelitian ini adalah:

§ Alat tulis-Menulis = untuk mencatat data yang di ambil

§ Dokumentasi = untuk mengambil gambar dalam penelitian

§ Rafia = untuk menentukan area penelitian

§ Patok = untuk membuat batasan area penelitian

§ Meter rol = untuk mengukur area penelitian

3.3. Prosedur Penelitian

Adapun prosedur pengamatan dalam penelitian ini adalah sbb:

§ Bertolak dari UU. No. 24/1992 tentang lingkungan hidup.

§ Melakukan pengamatan terhadap vegetasi yang terdapat disekitar tempat buangan limbah industri

§ Melakukan wawancara dengan pemerintah desa setempat (kepala desa)

§ Memilih 1/10 dari pihak stake holders yang berada pada daerah tersebut

§ Melakukan diskusi dengan masyarakat (stake holders)

§ Melakukan wawancara dengan pihak perusahaan

3.4. Analisa Data

Penelitian ini di analisa dengan menggunakan metode deskriptif, yaitu menjelaskan dan menggambarkan mengenai situasi konkrit di lapangan (obyek penelitian) dengan tujuan untuk mendapatkan informasi aktual secara detail.

Bentuk kuisioner

Adapun bentuk kuisioner adalah dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan antara lain:

1 Bagaimana dampak yang terjadi akibat dari pembuangan limbah?

a. Penyakit kulit, diare

b. Gatal-gatal, air minum susah

c. Tidak ada

2 Apakah sudah pernah ada yang mendatangi pihak perusahaan untuk berdiskusi soal ini?

a. Ya

b. Tidak

c. Mengapa?

3 Bagaimana tanggapan perusahaan mengenai dampak pembuangan limbah ke DAS?

a. Diam dan membiarkannya

b. Mengambil jalan keluar yang lain!...apa?

4 Apakah sudah pernah ada korban dari masyarakat akibat mengkonsumsi air dari DAS?

a. Ya

b. Tidak

c. Hanya sampai ke rumah sakit

5 Tahukah anda akibat serta bahaya dari pembuangan limbah?

a. Ya! Jelaskan?

b. tidak

6 Apakah pernah ada peraturan yang dibuat oleh perusahaan dan pemerintah desa tentang pengelolaan DAS?

a. Ya..! apakah masih terlaksana?

b. Tidak! Mengapa?

7 Apakah perusahaan sudah pernah melakukan tindakan penyelamatan terhadap lingkungan DAS?

a. Ya

b. Tidak

c. Dalam perencanaan! Kapan?

8 Sudah berapa lama perusahaan ini menjalankan fungsinya?

a. Kurang dari 5 tahun

b. Lebih dari 5 tahun

c. Lebih dari 10 tahun

9 Apakah sudah pernah ada tanggapan dari pemerintah mengenai hal ini?

a. Ya

b. Tidak pernah

c. Sedang berjalan

10 Apakah masyarakat pernah memberikan pernyataan pada perusahaan tentang pembuangan limbah yang merusak ekosistem?jelaskan

Daftar Pustaka

Agung , Valantina, Ivan. 2005. pengujian UU kehutanan dalam perspektif kebijakan pemerintah. Materi kampanye. http://www.walhi.or.id./kampanye/hutan/shk/060402-analisaptsnmk/

Asdak, Chay. Ir. 1995. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gadjah Mada universitas Press. Yogyakarta

Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah Propinsi Nusa Tenggara Timur, Peta Investasi Propinsi Nusa Tenggara Timur, Kupang, 2002.

Ilyas. Sofyan. Ir. Petunjuk Teknis: Pengelolaan Perairan Umum Bagi Pembangunan Perikanan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian Jakarta

Koentjaraningrat. 1984. Masalah Pembangunan Perikanan Indonesia. LP3ES. Jakarta.

LIPSI. 2000. Kelautan Untuk Kesejahteraan Rakyat. Jakarta.

Montalalu, Maria. 2005. Usaha Tani Konservasi Untuk Pelestarian Sumberdaya Alam. Dinas Kehutanan Bogor. http://tumoutou.net/3 sem1 012/maria montolalu.htm

Purwanto, A. Drs. 1999. Dasar Limnologi. Pusat Penelitian Tanah. Bogor.

Sambut, Pieter .2004. Sumberdaya Pesisir dan Laut NTT. PT Rapihbudi Mulia

Simanjuntak. 2001. Social Ekonomi Kelautan dan Perikanan. Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta.

Tarumingkeng, C, Rudy. Ir.Dr. Prof. 2009. System Ekologi Daerah Aliran Sungai. IPB

Taryoto.2001. penelitian kelembagaan dan sosio-antropologi kelautan dan perikanan. Departemen kelautan dan perikanan. jakarta


KAJIAN PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS)

TERHADAP KEBERLANJUTAN VEGETASI

YANG TERDAPAT DI DAS OESAPA


OLEH

NAMA : YOHANES REINNAMAH

NIM : 3804009

PROGDY : PERIKANAN/ MSP

FAKULTAS PERIKANAN

UNIVERSITAS KRISTEN ARTHA WACANA

KUPANG

2009

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar